Bagaimana rasanya ketika kita dituduh (bahkan selalu dituduh) dan dicurigai untuk sesuatu yang tidak kita lakukan?hanya karena sebuah kesalahan (yang juga tidak pernah kita lakukan), pedih rasanya, bahkan untuk menuliskannya pun selalu menyisakan luka yang mengiris jiwa. Entah apa, rasanya ingin sekali saya berkata dan memohon sama Tuhan, biar Tuhan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, biar semua kesalahpahaman ini tidak terus berlanjut agar semua rasa sakit ini dapat terobati. Tapi saat ini aku mesti menjelaskan apa? Sedang semua praduga dan prasangka bergelora dalam jiwa, seperti badai yang siap menghancurkan seluruh keindahan lautan. aku berharap diriku ini seumpama karang, tetap tegar ditengah amukan gelombang, tapi aku manusia yang lemah yang tak berdaya tanpa kasih sayangNya, dan aku mulai putus asa dengan semua yang aku jalani. Aku hanya mampu diam terpaku, dengan luka yang semakin menganga, hanya air mata yang yang mampu berbicara, mengalir laksana banjir yang menghempaskan semua yang ada.
Adakah kesalahan yang termaafkan? Sedang Tuhan adalah maha pemaaf? Kenapa aku selalu ada diposisi yang salah (dimatanya) , tak adakah sisi kebaikan dalam diriku yang dapat terlihat oleh mata hatinya, apakah seperti ini perempuan ditakdirkan? Hanya untuk menjadi subjek kesalahan seorang laki-laki? Jika aku menggugat eksistensinya sebagai lelaki apakah itu berarti aku tak menghargai? Menghancurkan dirinya sebagai kepala rumah tangga? Lalu bagaimana mesti menjelaskan semua yang ada dalam pikiranku, tak adakah dia mengerti?tak mampukah dia memahami?
Aku selalu menganggap setiap masalah sebagai pendewasaan diri, dan komunikasi adalah hal yang terpenting dalam sebuah hubungan, kenapa dia selalu merasa telah mempersembahkan yang terbaik sedang aku tak pernah? Tak bisakah membuka hatinya dan mendengarkan sisi lain yang aku ungkapkan? Kenapa semua pernyataan dan pemikiran ku selalu salah?
Setahuku, Islam mengajarkan ahlak yang sempurna, mengajarkan toleransi dan demokrasi, dan menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan? Bukankah Islam yang membebaskan diri perempuan dari kezaliman? Kenapa di era yang katanya modern ini (dimana kebebasan telah sedemikian salah kaprah dalam banyak hal) masih saja menganggap perempuan sebagai barang yang tak pantas untuk diterima pendapatnya, hanya sebatas pelayan dan pemuas suami, pengasuh bagi anak-anaknya, bagaimana kita mampu membangun hubungan yang baik jika tidak pernah menerima kritik dan keberatan dari orang lain? Dia selalu berhasil membicarakan demokrasi, toleransi namun apa arti semua itu jika tidak mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Kenapa hanya mampu menilai orang lain sedangkan tidak mampu menginstropeksi diri sendiri?
Entahlah, yang pasti saat ini aku Cuma merasa putus asa, tak tahu kemana hendak melangkah, kemana pula hendak mengadukan seluruh persoalan ini, untuk membicarakan dengannya semua tak mungkin, hatinya diliputi dengan amarah dan prasangka, sedang hatiku pun sudah sedemikian terluka, tak mungkin terobati , jadi kuserahkan saja semuanya pada Allah, biar Allah yang membukakan hati kami dan menyelesaikan semua persoalan kami, karena aku yakin Tuhan Maha Mengetahui tanpa harus aku mengatakan kepada Nya, bukankah Dia tak pernah tidur dan meninggalkan kami? Aku hanya berharap karena KuasaNya semua permasalahan ini dapat terselesaikan. Semoga….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar